Apr 13, 2012

Memanfaatkan Gambar Kartun Berangkai Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Narasi Siswa Kelas IX Madrasah Tsanawiyah Negeri Nganjuk

Mochammad Abdul Rasyid
Abstrak

Salah satu permasalahan pengajaran menulis Bahasa Inggris di MTsN Nganjuk adalah tidak efektifnya pengajaran menulis yang diterapkan guru. Guru bahasa Inggris tidak membuat perencanaan yang baik dalam pengajaran menulis. Mereka tidak terbiasa menerapkan langkah-langkah pembejaran menulis sebagai proses. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan peneliti di kelas IX-E, ditemukan beberapa fakta sebagai berikut: (1) Siswa mempunyai masalah dalam mengembangkan ide dan mengorganisasikan teks; (2) Kempuan siswa terhadap kemampuan tata bahasa dan kosa kata kurang memadai; (3) Siswa kelas IX-E menginginkan adanya kegiatan menulis teks narasi karena mereka belum pernah menulis teks tersebut sebelumnya. Dari fakta di atas, peneliti merasa sangat termotivasi untuk memecahkan permasalahan tersebut dengan memanfaatkan gambar kartun berangkai melalui pendekatan menulis sebagai proses dan empat tahap pembelajaran Bahasa Inggris (BKoF, MoT, JCoT, dan ICoT).
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambar kartun berangkai dapat meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa kelas IX MTsN Nganjuk. Mengacu pada rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan strategi dengan memanfaatkan gambar kartun berangkai dalam pengajaran menulis dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa kelas IX dalam menulis teks narasi.
Desain penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tinadakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan atau penerapan strategi, tahap observasi atau pengamatan, dan refleksi dan dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IX-E yang terdiri dari 33 siswa. Sejumlah alat bantu penelitian seperti lembar observasi, kuesioner, dan catatan lapangan digunakan untuk mengumpulkan data tentang tingkat keterlibatan siswa dan tingkat motivasi siswa selama penerapan strategi pembelajaran. Sedangakan hasil tulisan siswa dinilai berdasarkan format penilaian dengan menyesuaikan format yang dikembangkan oleh Hill, dkk (1998) dengan mempertimbangkan cara pendeskripsian tokoh pelaku dan tempat kejadian, alur cerita, tema, dan kesimpulan atau pesan cerita serta mempertimbangkan aspek bahasa seperti tata bahasa, kosa kata, dan susunan kalimat. Penelitian ini dianggap berhasil jika memenuhi tiga criteria. Pertama, tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran mencapai 75% dari hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat. Kedua, jumlah siswa yang mendapat nilai 65 atau lebih mencapai 70% (24 siswa) dari jumlah siswa keseluruhan. Ketiga, nilai rata-rata siswa minimal 65.
Sejumlah temuan selama penelitian ini menunjukkan bahwa gambar kartun berangkai yang diimplementasikan dalam empat tahap pembelajaran dan pendekatan menulis sebagai proses sangat efektif dalam pengajaran menulis teks narasi. Pertama, gambar kartun berangkai membantu siswa dalam hal pengembangan ide dan mengorganisasikan teks. Kedua, pendekatan menulis sebagai proses memandu siswa terhadap langkah-langkah penciptaan teks, sedangkan empat tahap pembelajaran sangat efektif diterapkan dalam pengajaran menulis. Strategi tersebut lebih efektif dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengakses sendiri gambar kartun berangaki dan mengembangkankannya dalam bentuk cerita narasi. Pendekatan individu terhadap siswa juga mendorong mereka untuk lebih berkreasi dan meminimalkan jarak antara guru dan murid.
Langkah-langkah penerapan gambar kartun berangkai dalam pengajaran menulis teks narasi mengikuti empat tahap pembelajaran (BKoF, MoT, JCoT, dan ICoT). Kegiatan diawali dengan BKoF, yaitu bercerita oleh guru dan menulis kembali cerita tersebut. Dalam tahap MoT, sebuah teks narasi dicontohkan oleh guru untuk dipahami dan dianalisis. Pendekatan menulis sebagai proses muncul pada tahap JCoT. Diberikan satu set gambar kartun berangkai, siswa membuat garis besar cerita, mengembangkannya dalam bentuk teks, meminta teman lain untuk membaca untuk kemudian dikoreksi dan diperbaiki. Dalam tahap ICoT, siswa secara individu mengakses gambar kartun berangkai dari koran atau majalah dan mengembangkannya dalam bentuk cerita narasi. Para siswa melakukan proses menulis yang dimulai dari mengembangkan ide cerita, saling mengoreksi dengan teman dan atau guru, memperbaiki teks, dan menulis kembali teks setelah mendapatkan masukan dari teman dan atau guru. Pada akhir kegiatan, guru mempublikasikan karya-karya mereka melalui kegiatan membaca, bermain peran, dan memajangkannya di majalah dinding.
Mengacu pada hasil-hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa gambar kartun berangkai efektif dalam pengajaran menulis teks narasi. Gambar kartun berangkai menginspirasi siswa dalam berimajinasi, mengembangkan ide-ide mereka, dan mengorganisasikan teks. Pendekatan menulis sebagai proses mengarahkan siswa untuk melakukan langkah-langkah dalam menulis. Sedangkan empat tahap pembelajaran memfasilitasi siswa terhadap langkah-langkah pembelajaran menulis secara berkelompok dan menulis secara mandiri. Guru Bahasa Inggris disarankan untuk memanfaatkan gambar kartun berangkai dalam pengajaran menulis teks narasi. Para siswa disarankan untuk senantiasa berlatih menulis dalam topik yang berbeda dengan memanfaatkan keberadaan gambar kartun berangkai yang terdapat di koran, majalah, dsb. Untuk peneliti yang lain, diharapkan untuk melakukan penelitian berdasarkan temuan dalam penelitian ini demi mengembangkan strategi yang lebih baik dalam pengajaran menulis.

Kata kunci: gambar kartun berangkai, meningkatkan, kemampuan menulis, teks narasi

0 comments:

Post a Comment