Mar 3, 2012

Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas X di MA Mambaus Sholihin Gresik melalui Pemetaan Ide

By: M. Zaini Miftah
Abstrak

Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah yang dihadapi oleh peneliti dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas. Pengalamannya sebagai guru Bahasa Inggris pada kelas X di Madasah Aliyah (MA) Mambaus Sholihin Gresik menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis masih rendah. Berdasarkan studi pendahuluan, ditemukan bahwa nilai rata-rata siswa dari tugas menulis adalah 50.5. Hasil ini cenderung belum memuaskan karena belum mencapai target belajar yang harus paling tidak 65 untuk standar kesuksesan di sekolah. Ditemukan juga bahwa ada beberapa masalah yang harus dipecahkan. Masalah utamanya adalah para siswa tidak mengetahui bagaimana cara menemukan dan mengorganisasi ide untuk menulis sebuah topic.
Untuk memecahkan masalah tersebut, penilitian ini menitikberatkan pada pemecahan masalah yang berkaitan dengan bagaimana cara siswa menemukan ide dan mengorganisasikannya dalam menulis sebuah topik.
Penelitian ini menawarkan pemetaan ide yang dikembangkan dalam model yang cocok untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas X dalam menulis teks diskriptif. Masalah dalam penelitian ini adalah, “Bagaimana strategi pemetaan ide bisa meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas X di MA Mambaus Sholihin Gresik?”
Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif. Peneliti bekerja sama dengan guru Bahasa Inggris dalam kegiatan yang bersiklus yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi terhadap data yang diperoleh dari proses belajar mengajar yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus. Setiap siklusnya terdiri dari empat pertemuan. Subyek penelitian ini adalah semua siswa kelas X-6 semester kedua pada tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari tiga puluh delapan siswa putra. Instrumen yang digunakan adalah tugas menulis, observation checklist, field notes, dan questionnaire. Refleksi dilakukan berdasarkan temuan selama pengamatan dan dibandingkan dengan kriteria sukses yang meliputi: (1) dengan instrumen tugas menulis, prestasi menulis siswa meningkat (≥75% siswa dalam satu kelas mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan 65 dalam skala nilai 0-100), dan (2) dengan instrumen observation checklist, siswa terlibat aktif dalam kegiatan menulis. Hasil dari refleksi digunakan untuk menentukan perencanaan terhadap siklus berikutnya.
Setelah penelitian dilakukan, langkah-langkah model yang cocok dalam menerapkan pemetaan ide adalah sebagai berikut: (1) beritahukan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran, (2) tunjukkan gambar yang akan didiskripsikan dan suruh mereka untuk mengamatinya, (3) tulislah obyek (topik atau kata kunci) pada lingkaran dan datangkan ide-ide siswa, (4) bimbinglah mereka untuk mengembangkan setiap ide penjelas, (5) bimbinglah mereka untuk membuat kalimat dalam mengembangkan ide penjelas tersebut, (6) distribusikan contoh teks diskriptif, dan suruhlah mereka membaca dan memahaminya, (7) kelompokkan mereka menjadi empat kelompok, (8) distribusikan gambar-gambar yang berbeda atau (dengan cara lain) suruhlah mereka mengamati obyek yang nyata, (9) distribusikan kertas A4, lengkapilah dengan petunjuk kosa kata dan kamus, lalu latihlah mereka, (10) suruhlah mereka mencari ide dan mengelompokkannya dengan cara pemetaan ide, (11) bimbinglah mereka untuk melakukan drafting, (12) tugasi mereka untuk menulis draf awal berdasarkan ide yang dipetakan, (13) suruhlah lebih lebih menekankan isi dan organisasi daripada mekanik, (14) bimbinglah mereka untuk memperbaiki draf, (15) suruhlah mereka memperbaiki drafnya sendiri dengan menggunakan pedoman revising dan menggunakan ide yang dipetakan untuk mengembangkan isi dari draf tersebut, (16) tugasi mereka melakukan proofread terhadap draf temannya, (17) suruhlah mereka membuat perubahan yang sesungguhnya, (18) bimbinglah mereka untuk melakukan editing, (19) suruhlah mereka meng-edit drafnya sendiri dengan menggunakan pedoman editing dan menggunakan ide yang dipetakan untuk meneliti/memperbaiki isi, organisasi, tata bahasa, dan mekanik terhadap draf tersebut, (20) tugasi mereka untuk melakukan proofread lagi, (21) tugasi mereka untuk berbagi hasil tulisan mereka, dan (22) suruhlah mereka mengumpulkan tulisan akhir untuk dinilai.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa siswa menjadi aktif selama pembelajaran menulis dan kemampuan siswa meningkat setelah penerapan tindakan dilakukan. Peningkatan tersebut ditunjukkan oleh peningkatan persentase prestasi siswa dalam menulis teks diskriptif. Persentase siswa yang mendapatkan skor ≥65 pada akhir Siklus I 36.11% (13 siswa). Persentase ini meningkat menjadi 52.78% (19 siswa) pada akhir Siklus II. Pada akhir Siklus III, persentase siswa yang mendapatkan skor ≥65 mencapai 82.86% (29 siswa).
Berdasarkan temuan, ada tiga saran yang diberikan. Pertama, para guru Bahasa Inggris disarankan agar menerapkan langkah-langkah model pemetaan ide sebagai salah satu strategi alternatif dalam pembelajaran menulis dan juga mengembangkan cara pembelajaran mereka sendiri agar lebih tepat dipakai dalam pembelajaran mereka di kelas. Kedua, kepala sekolah sebagai pihak pembuat kebijakan disarankan agar memberikan waktu pelajaran yang khusus bagi siswa untuk mempraktikkan menulis Bahasa Inggris yang berkelanjutan. Ketiga, para peneliti yang akan datang disarankan agar melakukan berbagai penelitian yang berkaitan dengan penerapan pemetaan ide dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk skill yang lain seperti listening, speaking, and reading, dan untuk level yang lain misalnya Sekolah Dasar (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), dan Universitas dengan mempertimbangkan keampuhan pemetaan ide sebagai strategi dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Kata kunci: pemetaan ide, kemampuan menulis.

0 comments:

Post a Comment